Selasa, 26 Juli 2016

Kapan Melirik Animasi Indonesia?



Masih di Jakarta dengan segala hiruk pikuknya yang tak pernah peduli waktu. Apakah pagi, siang atau malam tetap saja padat, mengharuskan orang-orangnya membuang banyak waktu berharga di jalan raya. Kali ini, Pak Gun mengajak saya dan Kak Iyay turut serta menghadiri undangan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dalam serangkaian acara Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016.

Perjalanan yang sebenarnya tidak jauh, namun menghabiskan waktu 3 jam tersebut, kami habisakan dengan obrolan ringan seputar kartun-kartun anak di televise. Saya lebih banyak menyimak mereka tentunya, sembari belajar. Pak Gun yang pada acara tersebut merupakan salah satu dewan juri, sesekali menanyakan komentar kami tentang beberapa kartun atau acara anak yang masuk nominasi. Hingga tak terasa, kami sudah menembus kepadatan Jakarta dan mendarat di pelataran parker Gedung KPI Pusat.

Sesampai disana, ruangan sudah ramai oleh tamu-tamu undangan yang berlabel identitas medianya dan banyak lagi orang yang katanya komisioner-komisioner KPI beserta tamu kehormatannya. Saya sih tidak tau, hehe. Sebelum acara dimulai, tamu-tamu dipersilakan menikmati coffe break, sampai MC memberikan prolog tanda serangkaian seremonial penganugerahan itu hendak dimulai. Sederetan acara berjalan dengan lancar, mulai dari sambutan hingga pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang lengkap dengan selingan hiburan yang diisi unjuk bakat anak-anak. Sejenak, mengajak kita bernostalgia sekaligus mengingatkan kita bahwa beberapa hari terlewat kemarin adalah perayaan Hari Anak Nasional.

Anugerah Televisi Indonesia Ramah Anak 2016 merupakan pertama kalinya diselenggarakan, sebagai wujud penghargaan terhadap stasiun televise yang masih peduli akan moral dan masa depan anak-anak Indonesia. Kalo kata pak Judhariksawan, “kalau kita mau, kita bisa menggeser sedikit kepentingan rating untuk perbaikan generasi kita selanjutnya, dengan peduli terhadap eksistensi tayangan yang seharusnya untuk anak-anak.” Waktu bliyo ngomong sih, saya aminin aja, semoga acara ini nggak cuman seremonial belaka untuk mempercantik nama KPI. Yaa.. who knows.

Ada lima kategori nominasi dalam acara penganugerahan tersebut, kategori acara documenter yang dimenangkan oleh Si Bolang Trans 7, kategori acara variety show yang dimenangkan oleh Buah Hatiku Sayang TVRI, kategori acara animasi asing anak yang dimenangkan oleh Pada Zaman Dahulu MNCTv, dan yang terakhir kategori animasi anak Indonesia yang dimenangkan oleh Garuda Gemilang IVM. Menurut saya, di akhir nominasi inilah bagian paling mengharukan, membahagiakan, sekaligus menjadi sentilan!

Ketika nominasi terakhir dibacakan, bahwa pemberian penghargaan jatuh pada IVM dengan animasi anak Indonesia-nya berjudul Garuda Gemilang, dipersilahkanlah PD atau supervisor acara tersebut untuk maju menerima pengargaan KPI. Ketika itu, orang dari IVM yang saya tak tahu namanya, maju didampingi seseorang yang saya pun tak tahu siapa. Setelah menerima penganugerahan, keduanya naik ke mimbar untuk memberikan sepatah dua kata.

Pertama, yang memulai sambutan kemenangannya adalah orang IVM. Setelah ucapan terimakasihnya, dengan wajah yang tentu tampak bahagia, ia sampaikan “Kendala terbesar perkembangan animator Indonesia hari ini, adalah minimnya sokongan dari pemerintah. Hari ini, saya sampaikan langsung di depan wakil ketua komisi I DPR RI yang hadir di depan saya. Karena sebenarnya, ada banyak sekali animator hebat milik Indonesia. Hanya saja, banyak dari mereka yang terhambat financial dalam memproduksi lebih banyak lagi. Saya tau betul, karena ada beberapa PH animasi Indonesia yang deal dengan IVM, dan saya pun terkejut melihat kegilaan mereka memproduksi animasi dengan uang yang tidak bisa dibilang cukup. Jadi, besar sebenarnya harapan animator-animator Indonesia untuk lebih diperhatikan dan didukung karya-karya besarnya oleh pihak yang memang memiliki sokongan dana untuk eksistensi karya mereka” kurang lebih seperti itu perkataannya.

Kemudian, si orang IVM itu mempersilakan pemudah disebelahnya menggantikannya naik keatas mimbar. Rupanya, pemuda tersebut merupakan animator dari PH yang memproduksi animasi Garuda Gemilang yang baru saja berhasil meraih nominasi Animasi Anak Indonesia terbaik. Dengan terbata-bata, karena kebahagiaan membuncah yang tampak sekali diwajahnya, ia mengatakan “ini seperti mimpi buat kami” kemudian dia menceritakan bagaimana perjuangan dia dan teman-temannya menyelesaikan episode demi episode animasi untuk anak-anak Indonesia, terkendala biaya produksi yang terlampau tinggi, belum lagi tidak semua karya animasinya bisa menembus industry televise apalagi ditonton khalayak. Dan ternyata, inilah kondisi banyak animator Indonesia hari ini.

Sementara industry televise lebih memilih membeli dan menayangkan kartun-kartun impor. Lebih murah memang, namun sebenarnya ada banyak animator Indonesia yang menanti karyanya diapresiasi oleh masyarakat luas, bahkan sekedar menutup biaya produksi. Misal, animasi yang budgetnya mencapai 50 juta tapi saat ditawarkan ke televise dalam negeri, hanya dihargai 15 juta. Bagaimana bisa animasi yang sudah susah payah dibuat oleh animator rumah sendiri hanya dihargai segitu, bahkan lebih memilih animasi impor yang jauh lebih murah. Sedih sih dengernya, apalagi ngeliat wajah bahagia si mas pembuat animator Garuda Gemilang itu. Ah, andai semua creator animasi Indonesia bisa merasakan pujian dan apresiasi anak-anak negeri….
Kemudian, saya membiarkan sejenak pikiran saya membumbung merangkai-rangkai sesuatu

Belajar dari Tetangga

Televise Indonesia lebih senang menayangkan animasi impor, memang tak bisa dipungkiri. Namun anehnya kenapa kita masih selalu nyaman dengan status konsumen ? jika mau memetik pelajaran penting dari tetangga sebelah, pemerintahnya telah memberikan kucuran pendanaan untuk produksi studio animasi, sehingga mampu mendulang suksesnya hari ini. Pada Zaman Dahulu, Upin-Ipin, Boboboiy dan banyak lainnya bukan tanpa sebab berani memasarkan animasinya dengan nominal yang sedikit. Hal tersebut, karena sokongan penuh dari pemerintahnya terhadap perkembangan industri animasi. Jempol bukan?

Kenapa Indonesia tidak melepaskan statusnya sebagai konsumen tetap animasi impor dan segera beranjak melihat potensi animasi lokalnya? Nah itu dia pertanyaannya. Sinergi antara PH animasi Indonesia dan pemerintah tentu akan semakin menambah geliat animator-animator kebanggaan rumah sendiri untuk menciptakan lebih banyak lagi tayangan anak yang berkualitas. Sehingga, animasi local dengan segera memiliki penikmatnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Ya, semoga saja setelah cerita si mas yang mewakilkan kawan-kawan animator Indonesia lainnya, pemerintah kita tergerak untuk member apresiasi lebih terhadap eksistensi animasi local.

Indonesia, Negeri Sejuta Cerita

Beberapa tahun lalu, saya pernah juga berbagi cerita di laman ini tentang pujian bertubi-tubi untuk kartun karya tetangga. Upin dan Ipin. Saya tidak akan menarik pujian tersebut, hanya Indonesia seperti lagi-lagi perlu belajar untuk bangga kepada apa yang dipunya. Saya begitu mengagumi serial upin ipin yang menjadikan Malaysia dengan segala tata krama dan religiusitasnya sebagai latar belakang cerita tersebut. Kehidupan sederhana yang tidak muluk-muluk diikuti rentetan pesan berharga yang dengan mudah dicerna anak-anak.

Bagi saya, sebenarnya Indonesia jauh lebih banyak menyimpan cerita dengan keberagamannya dari sabang sampai merauke. Jika peluang tersebut ditangkap benar oleh para stakeholder yang juga prihatin terhadap tayangan anak Indonesia, tentu ini akan menjadi solusi atas kering kerontangnya sokongan bagi animator kita. Bayangkan, dengan beragam latar belakang budaya, bahasa, unggah-ungguh, dan segala keunikannya tentu tak susah menciptakan sejuta cerita untuk animasi Indonesia. Toh, tak adalagi yang perlu diragukan dari kreatifitas animator tanah air.

Tengoklah Upin-Ipin, meskipun budayanya tak seberagam Indonesia, dengan dukungan segala pihak mampu membuat animasi anak tersebut menghiasi layar-layar di seluruh dunia. Dan yang terpenting, menyebarluaskan pesan-pesan kebaikan untuk anak-anak di dunia dengan cara mereka. Nah sekarang saatnya kita!

Jika kita terus berburu rating, kapan animasi Indonesia akan dianggap penting?


Bekasi, 26 Juli 2016

Menyapa Generasi Z




Generasi Z


"Generasi yang lahir pada tahun 1995 – 2000an. Generasi Z sering disebut juga sebagai iGeneration atau Generasi Net, oleh karena zaman ketika mereka lahir merupakan masa dimana teknologi media digital sedang berkembang sangat pesat sehingga pengaruh teknologi sangat dekat dengan lingkungan mereka."


Tau kan generasi Z ? bisa jadi saya, kamu, atau siapapun diantara kita termasuk dalam orang-orang yang dikategorikan sebagai generasi Z. Ya, Generasi yang melek dengan teknologi. Omong-omong tentang Generasi Z, saya ingin berbagi cerita beberapa hari yang lalu ketika mendapat kesempatan menyapa Generasi Z di SMP 255 Jakarta. Jangan bayangkan saya dan mereka beda setaun dua taun ya, karna diantara kita sangat jauh rentang usianya. Kalo sekarang saya 21 tahun, mereka masih 12-13 tahun, and that’s the real millennium generation!

Masih merupakan salah satu cerita magang saya di YPMA (Yayasan Pengembangan Media Anak), malam itu ketika sedang menyelonjorkan kaki akibat pegel-pegel hasil adaptasi rute magang Bekasi-Jakarta setiap hari, tiba-tiba muncul satu notifikasi email di layar ponsel.



Oh, rupanya Pak Gun. Beliau merupakan ketua yayasan dari tempat saya magang, sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi UI. Membaca notifikasi tersebut, hati langsung bersorak dan ngga jadi pegel-pegelnya. Sekejap sudah memencet send di layar ponsel, mengiyakan perintah bos. Yes, jalan-jalan!

Esoknya, seperti yang dijanjikan. Jam 8 tepat, kami berlima berangkat menuju SMP 255 Jakarta. Sesampai disana, setelah bercakap sebentar dengan tim guru yang mengurus masa orientasi siswa, kami dipersilakan untuk mempersiapkan materi di Ruang Multimedia. Obrolan singkat dengan Pak Gun, bahwa siswa-siswi di SMP ini memiliki latar belakang keluarga menengah keatas, jadi kalau kita amati, konsumsi mereka terhadap teknologi disekitarnya sangat dekat, mulai dari gadget, games, dan semua yang serba multimedia.

Tak lama berselang setelah bahan materi dan kuesioner selesai dipersiapkan, segerombolan anak-anak berseragam merah-putih memasuki ruangan. Ya, merah putih karena mereka masih dalam masa orientasi, jadi yang tampak dihadapan saya ketika itu wajah-wajah polos anak SD yang beranjak SMP. Tanpa diminta, mereka justru berebut duduk di kursi depan. Hal yang jarang sekali saya lihat, bahkan di kalangan mahasiswa seperti saya.

Sembari mengondisikan, saya, devi dan mba Iyay mengajak mereka untuk Ice Breaking, tentunya dengan iming iming cokelat supaya makin semangat. Setelah diinstruksikan oleh Pak Gun, kami pun menyudahi santapan pembuka yang disuguhkan untuk adik-adik. Mulailah Pak Gun menyampaikan materi nya tentang apa itu literasi media, apa pentingnya literasi media, dan obrolan-obrolan santai yang dengan antusias ditanggapi oleh anak-anak kelas 7 yang masih dalam masa orientasi tersebut.
Tidak sulit buat mereka mengerti apa maksud dari materi yang disampaikan, seperti pertanyaan Pak Gun yang ditanggapi dengan Percaya Diri oleh beberapa siswa, “jadi literasi media itu maksudnya gimana kalo buat adik-adik?”

“Kalo saya nonton TV harus liat dulu, sesuai atau engga buat diliat yang umurnya kayak saya”

“Pinter milih tontonan!”

“Ngajak mamah buat ikutan nonton, biar diawasin”

Kurang lebih seperti itu saut-sautan mereka. Sementara, materi tentang Literasi Media diakhiri dengan tantangan untuk menilai adegan negative dan ngga layak ditiru dari beberapa video kartun dan iklan anak yang ditayangkan Pak Gun. Adegan negative yang cukup implisit itu rupanya dapat dengan lantang ditebak oleh mereka, seperti adegan kekerasan di kartun Tom and Jerry, atau adegan mesra di kartun Popeye. Dari pertemuan tersebut, kami menyimpulkan bahwa sebenarnya pemahaman literasi media siswa-siswi SMP 255 Jakarta sudah sangat baik. Bahkan di Kuesioner yang mereka isi diawal perjumpaan tadi, kami mengkategorikan konsumsi mereka terhadap media digital dan online sangat tinggi, seperti bacaan, music dan game online, social media untuk berkomunikasi, dan lain sebagainya.

Terlebih hal tersebut diimbangi dengan pengetahuan terhadap tayangan yang positif dan negative menurut mereka. Dalam kuesioner yang setelah berkunjung, langsung kita rekap tersebut, mereka menilai tayangan-tayangan seperti On The Spot, Laptop si Unyil, Kartun di beberapa layar TV Kabel, dan Berita merupakan tontonan positif yang  mengedukasi. Sementara, banyak dari mereka sepakat bahwa sinetron seperti Anak Jalanan, Mermaid in Love, tontonan Bollywood, dan banyak lagi merupakan tayangan yang tidak ada nilai edukasinya sehingga malah merusak karakter anak-anak. Hal ini diungkapkan mereka dengan bahasa-bahasanya sendiri, yang menyertakan alasan di kuesioner yang mereka isi. Selain itu, poin tambahan lagi bahwa selama mereka mengonsumsi media, orangtua dianggap sangat berperan dalam mengontrolnya. Wah, menyenangkan bukan?

Terbersit beberapa asumsi dalam pikiran saya. Disini merupakan cerita tentang sekelompok anak-anak Generasi Z yang sangat mendukung kondisinya untuk mengenal teknologi media, menggunakan teknologi media, belajar dengan teknologi media, dengan segala fasilitas yang ada. Didukung pula oleh kedua orangtuanya yang juga tak sedikit memiliki pengetahuan tentang Literasi Media, sehingga bisa mengontrol apa yang dikonsumsi anak-anaknya. Ya, karena tak susah mewujudkan itu untuk mereka.

Namun, bagaimana dengan Kelompok Generasi Z yang lain? Anak-anak yang hanya bisa menikmati TV sehari-harinya, itupun berebut dengan ibunya yang tak mau ketinggalan menonton tayangan Bollywood kesayangannya, bapaknya yang juga ingin menonton pertandingan tinju, atau kakaknya yang juga tak mau mengalah menonton serial remaja favoritnya. Sehingga, membuat mereka akhirnya mengalah dan ikut menikmati juga. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab atas perilsaya mereka yang sok dewasa di usianya? Anak-anak yang tak kenal Gadget untuk berkomunikasi dan mencari informasi, mereka hanya mengenal warnet yang mungkin hanya seminggu sekali mereka bisa bertandang, membuka Facebook atau sekedar mencari-cari gambar tokoh idolanya. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab mengawasi?  Anak-anak yang hanya bisa memainkan games di Rental PS dekat rumahnya, karena bahkan untuk menyolokkan kabel PS saja, listrik dirumahnya tidak kuat. Kalau begitu, siapa yang bertanggung jawab kalau kalau games yang mereka mainkan, mengajarkan mereka berkelahi, berjudi atau yang lebih parah, berperilsaya asusila?

Sebenarnya, inilah PR saya dan teman-teman yang hari ini mengamini bahwa media sangat dekat dengan masyarakat, untuk mengenalkan Literasi Media dalam memanfaatkan teknologi didekatnya. Terutama, buat masyarakat yang tidak memiliki akses cukup untuk mengetahui bagaimana seharusnya memanfaatkan media. Karena, kalau kata salah satu senior saya “media bukan hanya sangat dekat dengan anak-anak. Tetapi, media hari ini adalah masa depan anak-anak” Nah lho. Jadi, penting bukan Literasi Media?


Bekasi, 24 Juli 2016

Mari Mulai!


Malam ini, langit Jakarta terlihat cukup sendu. Karena mendung  yang sejak sore tadi mampir, tak kunjung menurunkan hujannya. Saya memilih menikmati seduhan teh hangat sembari menghangatkan tubuh. Sesekali menengok beberapa pembaruan tulisan yang selalu saya tunggu, di wattpad. Ya, app bernama wattpad yang baru beberapa bulan lalu saya unduh di ponsel, sedikit banyak menyita perhatian saya. Bukan apa-apa, rasanya sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu untuk membaca, apalagi menulis, setelah semakin dimanjakannya kita dengan app sosmed di layar kecil ponsel yang membuat kita bisa setiap waktu memuntahkan uneg-uneg yang dipikirkan. Ternyata, kalau disadari efeknya, kita jadi malas merangkai tulisan sepanjang jalan kenangan, enggan sekedar berpikir agar tulisan panjang kita menjadi indah dan nikmat dibaca. Seperti saya mungkin, hari ini. Jadi, mumpung masih bisa sadar, boleh kan berbagi cerita?

Mungkin cerita-cerita saya setelahnya, rada berbeda dari yang sebelumnya. Karena tulisan terdahulu saya terlalu serius, jadi yang ini ngga usah dibawa serius lah ya... anggap aja catatan harian. selamat menikmati, semoga nikmat!


Bekasi, 22 Juli 2016

21.35 

Senin, 06 Juli 2015

Komedi [Sampah] Srimulat



Selalu ada banyak cerita yang selama 24 jam tanpa henti menghiasi kotak ajaib yang akrab kita sebut televisi. Namun, cerita-cerita itu kini, tak lebih dari sebuah dagelan seiring dengan semakin melejitnya bisnis industri pertelevisian di negeri kita tercinta. Tanya kenapa? Stasiun-stasiun televisi saat ini, bak sebuah korporasi yang hanya berorientasi pada profit semata. Sehingga, suguhan-suguhan dalam layar kotak tersebut, jauh dari kata berkualitas. Ironinya, diantara jutaan pemirsa, mungkin hanya segelintir saja yang merasa jengah dengan tidak bermutunya tayangan televisi kita. Hal itu tampak, dari rating televisi yang kian menanjak sebagai pembuktian atas popularitas program tak bermutu tersebut. Ya. Atas nama rating, produser program televisi indonesia dengan rakus, terus berusaha untuk mendongkrak popularitas program mereka, meski jauh dari nilai edukasi dan makna.

KPI sebagai lembaga pengawas tayangan televisi, yang seharusnya mampu menunjukkan taringnya ditengah kebablasan tayangan-tayangan televisi kita, saat ini tampak ompong, tunduk dibawah kekuasaan korporasi dan konglomerasi media. Alhasil, semakin merajalela-lah tayangan-tayangan kebablasan yang semakin kebablasaan. Pemberitaan tendensius sebagaimana kepentingan pemilik modalnya, infotainment yang hanya menyajikan kontroversi artis-artis pencari sensasi, sinetron yang tak ada ujungnya, atau sinetron tak mutu dengan kisah roman picisan yang selalu menjadi andalan, tayangan haha-hihi dan joget-joget berjam-jam yang menghiasi setiap channel layar kaca, apalagi komedi slapstick yang masih menjadi favorit pemirsa indonesia. Can you think again? Apa bagusnya program-program sampah itu?

Nah, kalau kawan-kawan sudah berbagi kegelisahan tentang tayangan-tayangan nggak bener dalam lomba menulis rapotivi kali ini, saya juga ingin berbagi kegelisahan tentang sebuah tayangan komedi yang belakangan saya amati dari kotak ajaib milik saya. Program komedi “Saatnya Srimulat” yang terbilang baru menghiasi salah satu stasiun televisi terbesar Indonesia [red: trans TV] tersebut, lebih sering membuat saya tertawa getir daripada tertawa karna lakon komedi haha hihi pemainnya.

Grup lawak yang sudah berdiri sejak tahun 1950, dengan dibintangi aktor dan aktris lawak senior memang dihujani pujian oleh berbagai pemirsa tanah air sekembalinya mereka ke dunia entertainment Indonesia. Alih-alih ikut memuji, saya justru merasa ada yang salah dari tampilnya grup lawak srimulat dalam dunia hiburan Indonesia saat ini. Grup lawak yang dahulu begitu identik dengan komedi berbudaya tersebut, begitu disayangkan karna menurut saya kini di layar kaca, mereka tak lebih dari sekedar grup lawak haha-hihi layaknya program acara lain yang dituntut untuk mengejar rating televisi.

Ada yang membedakan, acara komedi dahulu dengan saat ini. Jika dulu banyak grup lawak yang dikenal karena keberaniannya melayangkan kritik-kritik sosial dengan sindaran atau satire lakon pemainnya, namun kini acara komedi tak lebih bermutu ketimbang acara haha-hihi dan buli membuli para pemain mereka. Dan ironinya, justru hal itulah yang disenangi oleh pemirsa sejagat tanah air, sehingga membuat para produser program ketagihan membuat acara serupa hingga ber-jam-jam di layar kaca atas nama rating dan profit semata.

Hal itu juga saya temui dalam program acara “Saatnya Srimulat” yang dibintangi oleh aktor dan aktris lawak senior Indonesia. Program tersebut memang di setting lebih kekinian, begitu juga alur ceritanya yang juga di setting mengikuti perkembangan jaman. Seperti program komedi pada umumnya, dalam setiap episode, “Saatnya Srimulat” juga menghadirkan bintang tamu untuk bermain peran bersama mereka. Namun, konsep kekinian yang ingin diangkat oleh program tersebut justru menghilangkan jati diri grup lawak srimulat sesungguhnya.

Dalam beberapa episodenya, saya mengamati para lakon bermain peran dalam tayangan komedi “Saatnya Srimulat”.  Sayangnya, komedi yang kini bernuansa kekinian itu, tak jauh berbeda dari tayangan komedi haha hihi lainnya. Pemain lawak yang [maaf] dianggap memiliki keterbatasan fisik dan tidak sesuai dengan standar kecantikan dan kegantengan masyarakat dunia, ironinya, selalu menjadi objek bullying yang justru di gemari oleh pemirsa dan malah menjadi bahan tertawaan.  Postur tubuh yang bulat, kulit yang hitam, badan yang pendek, rambut yang keriting, hidung yang pesek, masih menjadi objek bullying andalan komedi-komedi Indonesia. Itu yang justru bikin geram, apa iya tidak ada candaan yang lebih menarik ketimbang mengomentari kondisi fisik antar pemainnya?

Kalau begitu, tidak perlu menjadi cerdas, tidak perlu menjadi kritis, semua orang sudah bisa menjadi pelawak hanya bermodalkan kepandain mengejek dan melemparkan lelucon-lelucon bodoh bernada sarkas. Begitu saja seterusnya, hingga pemirsa menjadi objek pembodohan komedi layar kaca.

Kritik dalam tulisan ini, terhadap program komedi “Saatnya Srimulat” tidak berarti bahwa komedi tersebut lebih buruk dari program-program komedi haha hihi lainnya lho.. namun, mungkin ekspektasi saya yang semula terlalu tinggi terhadap grup lawak srimulat, sekembalinya mereka ke layar kaca Indonesia yang dirasa mampu menjadi angin segar bagi program komedi haha hihi sejenis pesbukers, campur-campur, dan lainnya. Mulanya, saya kira kehadiran grup lawak srimulat dapat menjadi sarana kritik sosial dan sindiran terhadap amburadul nya kondisi negeri kita saat ini.

Memang, komedi hingga kini, masih menjadi favorit pemirsa Indonesia karna pengemasan acaranya yang santai dan mudah dimengerti oleh kalangan manapun. Oleh karena itu, seharusnya komedi dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kritik sosial yang cerdas dan mengedukasi masyarakat luas. Namun, jika semua produser hanya berorientasi pada profit dan popularitas semata, maka wajar jika komedi saat ini tidak lebih dari sekedar pembodohan dan pendangkalan pola pikir pemirsanya.

Pada akhirnya, bukan hanya program komedi "Saatnya Srimulat" saja yang perlu berbenah, namun semua program komedi slapstick yang masih demen nangkring di layar kaca hingga kini, semoga juga bisa berbenah dengan candaan-candaan yang mampu mencerdaskan dan mengedukasi pemirsa se- Indonesia.

Senin, 16 Juni 2014

A Little Things about Me





Alhamdulillah! I have done my video projecy for english assingment. Thank's for all :')

Minggu, 01 Juni 2014

Media : Pilar Keempat Pendidikan Karakter (?)

Era Globalisasi sukses mengantarkan manusia menuju zaman peradaban serba teknologi. Di zaman ini, teknologi telah menyulap informasi menjadi suatu komoditas baru bagi masyarakat dengan adanya media informasi yang semakin canggih berevolusi. Siapapun membutuhkan informasi, dan teknologi membuat media informasi dengan mudah di akses oleh siapa saja dan kapan saja di masa ini.
Jika dahulu masyarakat hanya bisa mengakses informasi melalui cetakan surat kabar, kemudian baru layar televisi berwarna hitam-putih hingga saat ini dengan mudah mengakses informasi melalui media online di internet yang dapat ter-update kapan saja, maka begitulah dengan pesatnya media informasi sebagai teknologi berkembang di masyarakat.
Seiring perkembangan media informasi yang semakin canggih, kini masyarakat dapat mengakses informasi melalui telepon genggam maupun gadget dimanapun mereka berada, hingga masyarakat tidak dapat lagi terlepas dari arus informasi yang setiap detik berlalu lalang memperbarui.
Media massa sebagai bentuk perluasan makna dari media informasi, kini menyandang peran barunya sebagai pilar keempat pendidikan. Namun, masih banyak yang tidak menyadari bahwa media massa merupakan pilar keempat pendidikan. Mari menelisik lebih dahulu pilar-pilar utama pendidikan karakter bagi generasi muda: Keluarga, sekolah, dan lingkungan. Pendidikan primer seorang anak dimulai dari pembentukan karakter sejak dini dalam keluarga. Kemudian, melalui sekolah formal anak menjalani perannya sebagai seorang siswa yang menuntut ilmu dan mendapat pengetahuan serta pengayaan di pilar kedua pendidikannya, yakni sekolah. Sementara melalui lingkungannya, anak akan belajar menjalani kehidupannya sebagai seorang makhluk sosial. Dan sebagai pilar ketiga pun, lingkungan tak sedikit pula memberikan pengaruh dalam membentuk kepribadian anak.
Lantas bagaimana letak media massa sebagai pilar keempat pendidikan karakter ?
Di era globalisasi kini, media massa mendapatkan perannya sebagai salah satu penentu dalam proses pendidikan karakter seorang anak. Kecenderungan manusia modern saat ini, yang bahkan tak terbatas usia, dari anak berumur 3 tahun hingga manusia dewasa berumur kisaran 65 tahun, tak lagi dapat dibendung aksesnya terhadap media massa. Dari bangun tidur hingga kembali lagi ke tempat tidur, akses telepon genggam, gadget, televisi, surat kabar, laptop, dan berbagai media komunikasi lainnya tak dapat lagi dihindari. Kemudahan mengakses media massa tersebut, yang kemudian mendasari penulis memunculkan statement bahwa kini media massa memainkan perannya sebagai pilar keempat pendidikan karakter.
Mari berfokus pada media massa dan pengaruhnya terhadap proses pendidikan karakter bagi anak.
Di ranah media, sangat penting untuk kita sadari bahwa televisi merupakan akses media yang paling mudah terjangkau oleh anak-anak. Permasalahannya, tayangan-tayangan di layar kaca belakangan yang semakin vulgar dan tak sedikitpun mengandung unsur edukasi bagi anak-anak yang menontonnya justru ditayangkan pada waktu prime time . Tanpa kontrol dari keluarga dalam menyeleksi tayangan yang ditontonnya di televisi, maka nilai-nilai yang tidak seharusnya dipahami oleh anak-anak akan dengan mudah terinternalisasi dan menjadi wajar digunakan dalam pergaulan dengan sebayanya.
Sebagai contoh, tayangan sinetron remaja yang disajikan pada jam prime time rupanya lebih diminati oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Alhasil, nilai-nilai yang jauh dari tata kesopanan yang diajarkan dalam keluarga, sekolah, bahkan lingkungan, dengan mudah mereka praktekkan karena efek nilai yang terus menerus terinternalisasi dalam diri mereka dan menjadi terbiasa (red: Teori Kultivasi). Istilah-istilah yang luput dari unsur edukasi pun menjadi wajar bagi mereka, seperti dalam salah satu sinetron remaja yang juga menjadi kegemaran anak-anak, “Kamseupay iyuh” “Udik Kampungan” “masalah buat lo?” atau “trus gue harus bilang waw gitu?” dan masih banyak lagi. Semakin menjadi ironi ketika istilah semacam itu justru lebih populer di kalangan anak-anak usia SD. Istilah tersebut bahkan sangat jauh dari norma kesopanan sebagaimana diajarkan dalam mata pelajaran PPKN di Sekolah Dasar (SD). Fenomena tersebut kemudian, membuktikan kepada kita bahwa kini media massa telah jauh berperan dalam internalisasi karakter bagi para generasi muda.
Di lain pihak, media juga  memerankan fungsinya yaitu informasi. Namun, fungsi informasi media kepada khalayak rupanya kurang memerhatikan sisi edukasi bagi para pemirsanya. Sebagai contoh, tayangan berita kriminal yang biasanya disajikan siang hari pada jam makan siang (prime time) seringkali menampilkan proses reka ulang kejadian perkara seperti kronologi pembunuhan, mutilasi, atau perampokan tanpa sensor. Padahal audience sebuah tayangan tak dapat di prediksi dari segmen mana saja, termasuk anak-anak. Menyikapi hal tersebut, seringkali kejadian yang disaksikan anak-anak yang sedang memasuki tahap Play Stage di usia nya, akan memunculkan  rasa Curiousity mereka yang tinggi dan tak jarang menirunya.
Belum lagi jika berbicara mengenai media online. Akses jejaring sosial, game online, banjir informasi dari yang fakta hingga sekedar isu, tak sedikit pula mempengaruhi proses pendidikan karakter para generasi muda. Jejaring sosial yang kemudian membentuk anak menjadi lebih hobi duduk di depan layar komputernya dan memilih bercengkerama dengan teman mayanya, atau game online denga bumbu-bumbu kekerasan yang tidak bisa kita tolerir untuk dinikmati anak-anak usia dini, belum lagi informasi yang dengan mudah di dapat masyarakat maya sangat rentan dengan konten-konten terlarang.
Namun, yang perlu kita sadari bahwa perkembangan media informasi yang memberikan berbagai dampak bagi generasi muda, bukan untuk kita bendung kegunaannya, namun untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Karena, tanpa dapat dipungkiri jika ketergantungan generasi muda kini untuk mengakses informasi melalui lini massa akan sangat berpengaruh bagi proses pendidikan karakternya, termasuk kepada apa saja yang dinikmatinya melalui media massa tersebut. Disinilah poin yang penulis rasa menjadi penting untuk dijadikan evaluasi bersama bagi semua pihak.

Sehingga, hadirnya media massa sebagai pilar keempat pendidikan karakter benar adanya. Ketika pilar pertama hingga pilar ketiga tidak maksimal memberikan perannya pada proses pendidikan seorang anak, maka dengan serta merta media yang ada di sekitar anak lah, yang akan membentuk karakternya. Begitupun sebaliknya, ketika proses pendidikan karakter terinternalisasikan melalui ketiga pilar utama, maka media sebagai pilar keempat pendidikan karakter akan meng-cover-nya dan menjadikannya lebih sempurna. 

Jumat, 24 Januari 2014

Upin - Ipin dan Krisis Hiburan di 'Rumah' Sendiri


Belakangan gue baru menyadari kekaguman gue yang teramat sangat sama serial kartun animasi karya budak-budak Malaysia yang akrab dengan judul Upin dan Ipin itu.

Hal tersebut bermula ketika perasaan jengah gue menyaksikan si adek yang demen banget mantengin televise di jam prime time kayak gini, hanya untuk menyempatkan diri menonton sinetron roman picisan remaja atau komedi slapstick yang kini marak di layar kaca itu.  Terang saja, dengan sedaya upaya jam itu juga, gue mati-matian membajak televise dengan memindahkan channel ke stasiun berita atau kompasTV. Karna sudah merasa tak berdaya oleh sang kakak, akhirnya si adek menyerah dan beralih fokus pada layar leptop yang sejenak nganggur di ruang tengah. Dan tetiba beberapa masa, ia sudah asik dengan tontonan barunya itu di layar leptop.

Lewat satu jam, gue penasaran juga apa yang di tontonnya sampe betah banget mendelikin layar leptop. Selidik punya selidik, ternyata si adek focus banget menyaksikan si ipin dan upin yang sedang berlaga menghiasi  layar leptop yang kemudian membuat gue sedikit lega. Akhirnya, ngeliat si adek yg asik banget sama tontonannya itu,  membuat gue larut juga di sebelah si adek menonton episode demi episode serial milik bangsa seberang itu.

Dari tontonan tersebut, banyak hal yang patut sekali gue puji dari serial kartun karya Les' Copaque bersama dengan Haji Burhanuddin Radzi dan istrinya H. Ainon Ariff pada tahun 2007 silam. Upin-Ipin mulanya merupakan serial kartun yang dipersembahkan untuk menyambut bulan suci ramadhan yang bertujuan mengajarkan kepada anak-anak arti pentingnya bulan ramadhan. Namun, karena meriahnya sambutan terhadap serial kartun tersebut, akhirnya Les’ Copaque mempersembahkan di beberapa musim berikutnya hingga terbentuklah komunitas-komunitas upin-ipin di beberapa Negara. Karna popularitas kartun tersebut, beberapa Negara seperti Turki dan Indonesia mengimport nya sebagai serial kartu  keluarga.

Serial kartun anak yang di latar belakangi kehidupan harmonis masyarakat Malaysia di kampong ini cukup menjadi pilihan tontonan cerdas bagi anak-anak  di akhir pekan ketimbang harus bercokol di depan layar kaca menyaksikan sinchan atau doraemon yang sesenungguhnya jauh dari pesan moral. Pesan moral yang disampaikan Upin-Ipin pun mendominasi alur dari cerita serial kartun ini. Hal tersebut tampak dari alur-alur ketika sang nenek, kak ros, atau ato’ yang kerap kali menasehati Upin-Ipin and the geng yang sesekali tampil dengan kejahilan-kejahilan khas anak-anak itu. Namun, serial ini menjadi menarik ketika tim Les’ Copaque yang memiliki ide cerita tersebut, mengemas pesan-pesan moral kepada penikmatnya dengan bahasa-bahasa yang cantik, sederhana dan mudah dipahami. Dan satu hal yang membuat saya begitu berdecak, ketika dengan berani Les’ Copaque menyuguhkan latar lingkungan yang tradisional disertai budaya-budaya khas Malaysia yang islamis dan harmonis meskipun ditengah gempuran globalisasi budaya. Namun rupanya, latar tradisional dengan kesan islamis dan harmonis itulah yang menjadi daya tarik bagi penikmat serial kartun Upin-Ipin.


Upin-Ipin and the geng inilah yang belakangan menarik hati gue yang semakin merindu akan tayangan-tayangan cerdas dengan nuansa keragaman cultural karya anak bangsa di tengah krisis hiburan berkualitas di layar kaca 'rumah' sendiri. 

Namun dibalik semua itu, percayalah! masih terbersit sejuta asa bagi masa depan jagat hiburan bangsa ini 





Ya. Sepenuhnya gue yakin, keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia nantinya, akan dapat melahirkan jutaan inspirasi cerdas bagi anak-anak bangsa yang dengan tulus berkarya untuk jagat hiburan di tanah negerinya. Sehingga, sangat tidak menutup kemungkinan ketika entah sekian masa lagi, akan banyak tayangan-tayangan cerdas pun kreatif karya anak bangsa yang laris hingga pasaran hiburan internasional mengungguli serial kartun cerdas bangsa seberang, karena buah inspirasi dari khasanah keragaman budaya yang dimiliki Indonesia. 

Selain itu, besar pula harapan gue ketika suatu masa nanti, jagat hiburan yang berjubel memenuhi tanah ini tidak lagi dipenuhi tayangan-tayangan yang berkiblat pada budaya barat, sarat akan kehidupan hedonis, westernis, konsumtif, roman picisan dan jauh dari pesan moral yang dengan bangga disuguhkan  kepada pemirsa Indonesia. Melainkan,  jagat hiburan yang dihiasi oleh anak-anak bangsa yang ingin berkarya untuk Indonesia, membawa keberagaman cultural milik bangsa.



Amin ya Rabbal Alamiin~